Rabu, 10 Oktober 2012

Menjadi Manusia

Oleh : Yongky

            Manusia memiliki nilai esensi yang murni lahir dari entitas manusia. Nilai esensi manusia di dalam era modern yang serba komoditas dan mengatasnamakan ekonomi membuat kesadaran manusia lupa akan nilai esensinya. Apakah sebenarnya arti manusia? Manusia bukanlah objek dari kehidupan yang digerakkan oleh sebuah sistem produksi. Tetapi manusia adalah subjek yang menentukan cara produksi yang esensial. Manusia memerlukan sesuatu karena memang dia butuh, manusia melakukan sesuatu kareana dia suka, manusia bekerja karena dia berdedikasi pada pekerjaannya. Inilah sisi-sisi kemanusiaan manusia.
            Saya langsung menuju ke tataran praktis. Ketika kita berhubungan sosial antar sesama manusia, apakah yang mendasari hubungan tersebut? Kita perlu memikirkan sebuah kesadaran kita. Adakah sebuah entitas yang menghubungkan hubungan sosial kita? Jika kita menemukan sebuah entitas yang menghubungkan kita adalah sebuah komoditas yang mempunyai nilai tukar, hal inilah yang membuat manusia kehilangan sisi kemanusiaannya. Sisi nilai kemanusiaan muncul ketika tidak ada representasi yang memediasi hubungan kita dengan orang lain. Ketika kita menyentuh sebuah realitas, sentuhan langsung tanpa perantara itulah yang disebut nilai esensi manusia. 
            Seseorang menjadi kehilangan sisi kemanusiaannya jika representasi yang adalah komoditas itu menjadi suatu pandangan yang membuat manusia terjebak dengan pandangan itu. Pandangan bahwa manusia itu akan kaya dan makmur jika dia bisa menghasilkan komoditas yang mempunyai nilai tukar. Sehingga semakin produktif dalam menghasilkan komoditas semakin makmurlah ia. Akankah kita terjebak dengan pandangan seperti itu? Kalau kita dengan pandangan itu maka kita telah digerakkan oleh sebuah sistem produksi komoditas. Komoditas menjadi hal utama yang kita kejar untuk menghasilkan kemakmuran, sehingga pandangan kita akan selalu menjurus kepada uang. Kita telah menjadi objek yang digerakkan oleh sistem bukan lagi menjadi subjek yang sadar.
            Kita juga harus bisa membedakan dengan tegas yang mana ilusi dan yang mana esensi. Kadang kita menjadi seorang schizophrenia ketika kita tidak bisa membedakannya, kita telah kehilangan kemampuan untuk menggerakkan diri kita sendiri. Sebuah ilusi adalah sebuah konstruksi sosial, atau sebuah angan-angan hasil dari sebuah konstruksi. Dia tidak datang secara alami tetapi datang dengan dihadirkan dengan berbagai perencanaan dan pembentukan nilai-nilai. Sedangkan esensi adalah sebuah entitas yang hadir secara natural tanpa sebuah dikonstruksi tetapi dialah yang mengkonstruksi. Esensi adalah sebuah entitas murni bukan entitas artificial atau hasil bentukan/konsrtruksi. Ilusi dan esensi ini yang membuat kita menjadi objek ataukah menjadi subjek? Nilai-nilai esensi manusia menjadikan manusia seutuhnya tetapi nilai ilusi menjadikan manusia menjadi mesin tanpa kesadaran.
            Dalam kehidupan modern yang serba individual dan materialis kita dituntut seakan-akan materi lah yang kita kejar dengan berusaha sekeras-kerasnya meskipun kita tidak suka dengan pekerjaannya. Ruang hidup kita seakan-akan memberikan porsi yang mendominasi pada segi ekonomi dan materi dengan mengesampingkan sisi-sisi humanis. Kita mengikuti pandangan ilusi tersebut bahwa manusia yang bahagia adalah manusia yang memiliki banyak materi atau uang. Kita berhubungan baik dengan seseorang karena ekonomilah yang melandasinya. Pandangan ilusi-ilusi tersebut membuat kita terjebak dengan yang namanya nilai uang. Padahal uang itu tidak berharga ketika kita tidak membuatnya berharga. Uang tidak lagi berharga ketika hubungan relasi sosial antar manusia dilanadasi oleh sisi-sisi kemanusiaan seperti kasih sayang, saling menghormati, saling menghargai dan saling berbagi.
            Rasanya sulit untuk menemukan manusia yang seperti itu. Inilah cara pandang yang saya tawarkan kepada para pembaca. Kalau kita sulit menemukan, kenapa kita menutup kemungkinan untuk menemukannya pada diri kita. Dalam menjamah sebuah realitas sosial kita tidak memerlukan sebuah representasi, kita langsung memiliki akses dan kuasa untuk menjamahnya. Contohnya adalah ketika kita meminta maaf kepada seseorang, meminta maaflah secara manusia tanpa perantara/representasi apapun kecuali bahasa. Kita harus mulai mendasari hubungan sosial kita dengan orang lain dengan nilai-nilai esensi kemanusiaan. berinteraksi dengan seseorang karena kita memang ingin berinteraksi dengan orang tersebut. Kita berinteraksi dengan orang tersebut karena kita memang suka berinteraksi dengan orang tersebut.
            Inilah sisi-sisi kemanusiaan yang harus kita sadari dan aplikasikan untuk menjadi seorang manusia seutuhnya. Seorang manusia yang tidak digerakkan oleh sistem atau eksistensi apapun yang menguasainya. Nilai kebutuhan, kebahagiaan dan kenikmatan dalam menjalani hidup harus di dasari oleh sebuah esensi. Harus didasari oleh sebuah entitas yang bukan artificial tetapi sebuah entitas yang murni bukan fantasi. Pada saat itu juga ketika kita mulai menyadari sisi kemanusiaan ini kita tidak akan pernah mempunyai sebuah tuntutan yang dibuat oleh sosial tetapi secara natural tuntutan itu hadir. Kitalah seorang manusia yang utuh yang menjadi subjek utuh atas diri kita sendiri dan realitas sosial.

Senin, 08 Oktober 2012

Identitas Esensial : Identitas Baru di Luar Bahasa


Oleh Yongky Gigih P.

Nothing outside language…
            Barangkali itu adalah sebuah pernyataan yang harus kita renungkan. Apakah sebuah realita itu dianggap tidak ada ketika tidak bisa dijelaskan dengan bahasa? Betapa otoriternya bahasa dengan karakter seperti itu. Dan sepertinya bahasa mempunyai kedudukan paling tinggi dalam menentukan identitas manusia. Kita tidak dapat keluar dari bahasa, kalaupun kita bisa keluar kita dianggap nothing. Jadi kita hanya sebagai objek yang diperlakukan bahasa (the death of subject-Foucault). Apakah kita benar-benar terkungkung dari penjara bahasa? Kita hanya bisa bergerak di dalam batas-batas bahasa tanpa pernah bisa melewatinya. Sepertinya Sartre telah menyadarkan kita bahwa manusia adalah ‘being for itself’. Kita mempunyai kesadaran bahwa kita ada dan saatnya kita berontak dari penjara bahasa.
            Provokator utamanya adalah Michel Foucault yang dalam pemikirannya mencoba untuk menggulingkan posisi subjek menjadi objek. Diikuti dengan Althusser dengan interpelasinya. Seakan kita diyakinkan bahwa kita memilih berdasarkan pilihan yang ada dan tidak bisa memilih di luar pilihan. Jika memilih di luar pilihan yang bahasa sediakan kita dianggap tidak ada.
            Saya coba mengembalikan posisi subjek yang mempunyai kuasa di luar bahasa. Subjek tidak bisa dijelaskan dan diidentifikasikan oleh bahasa secara utuh. Inilah identitas ideologis yang coba saya tawarkan. Dalam teori Jacques Lacan identitas kita sudah dikonstruk menjadi ‘the other’ sejak pertama kali mengalami level ‘mirror stage’. Proses bercermin diri dan melihat diri kita yang dikonstruk oleh ‘cermin’ dan kita setuju dengan identitas imajiner yang ideal itu. Sehingga lambat laun apa yang kita lihat dan apa kata yang melihat telah mengidentifikasikan diri kita yang sebenarnya bukan kita tapi sebuah bayangan cermin yang imajiner. Realitas dan sosial itu adalah tempat kita bercermin dan mengidentifikasikan diri kita. Ketika kita mulai menjadikan identitas kita dengan sebuah bahasa maka banyak identitas kita yang telah direduksi. Katanya Foucault, ‘The subject is subjected’. Subjek telah mensubjekkan dirinya melalui bahasa dan dari sinilah proses pereduksian besar-besaran nilai identitas oleh bahasa. Padahal sebenarnya kalau kita bisa menyadari nilai identitas kita lebih dari apa yang diidentifikasikan  oleh bahasa.
            Jacques Lacan menjelaskan sebuah proses konstruksi subjek dari mulai mirror stage, symbolic stage, sampai real order. Lacan mengatakan bahwa real order itu adalah identitas yang tidak mungkin. Tetapi sepertinya kata tidak mungkin itu ada batasnya. Real order adalah sebuah proses final dimana kita mendapatkan identitas yang ideal dan utuh. Sehingga tidak ada lagi lack, desire and demand. Inilah proses di mana kita menjadi subjek yang esensial dan bukan menjadi ‘the other’ lagi.
            Saya mengadopsi pemikiran Lacan tentang identitas subjek yang mengalami proses self constituted dan socially constructed dalam mengkonstruksi identitasnya. Kita memang harus mengalami step demi step itu tetapi kita jangan terhenti untuk mencapai step ideal diri kita.Perlu kita sadari bahwa identitas kita mulai dari awal telah dikonstruksi bahasa tetapi apakah selamanya bahasa bisa megkonstruk dan menjelaskan identitas kita? Lebih daripada itu. Bahasa telah mengekang pengetahuan kita akan identitas kita. Identitas kita memang bisa ditentukan oleh bahasa tetapi satu hal yang paling penting dan inti dari ideology ini adalah ‘tidak seluruh identitas kita’. Bahasa bisa mengkonstruk identitas kita tapi hanya sebagian kecil dari partikel identitas kita bukan seluruh identitas kita. Oleh karena itu jika kita menyerahkan identitas kita seluruhnya kepada otoritas bahasa kita hanya mengerti sebagian kecil dari identitas diri kita, tidak seluruhnya.
            Lalu kalau begitu siapakah kita? sebuah entitas yang bermakna? ya. Apakah maknanya? tidak bisa dijelaskan seutuhnya oleh bahasa. Jika dalam teori Saussure, tanda itu dibagi menjadi penanda dan petanda, dari sinilah kita bekerja. Kita adalah sebuah entitas (petanda) dimana entitas itu memiliki penanda-penanda yang begitu banyak sampai-sampai bahasa tidak dapat menjelasakan keseluruhan penanda kita.
            Dengan demikian arti sebuah makna identitas esensial adalah keseluruhan penanda dan makna yang berada dalam kesatuan entitas/identitas subjek yang membedakannya dari entitas-entitas yang lain. Mari kita melihat kembali perkataan Foucault ketika diwawancarai, ‘jangan tanya siapa aku dan jangan mengharapkan aku untuk berubah’. Dari pernyataan tersebut Foucault menyatakan bahwa identitas dirinya tidak pernah tetap dan maknanya selalu berubah-ubah, tertunda dan tidak pernah selesai. Karena apa? karena Foucoult terjebak dalam bahasa dan bahkan identitas Foucault direduksi oleh wacana-wacana yang dia buat sendiri. Identitas esensial tidak terjebak dalam batas-batas bahasa karena ia bisa melampaui batas-batas bahasa. Di sinilah subjek mulai tercipta. Dan apa yang diungkapkan Lacan tentang real order yang tidak mungkin itu telah terjawab dengan ideology esensial ini. Inilah identitas yang tetap dan ideal karena tidak tejebak dalam wacana sosial dan bahasa. Dan bagaimana anda mulai mendeskripsikan siapa anda? Saya bukan siapa-siapa menurut bahasa. Saya adalah saya. Saya adalah Yongky Gigih Prasisko. Salam…

Kamis, 04 Oktober 2012

Dekonstruksi Nilai Postkolonialisme : Pertarungan Nilai Essenial dan Nilai Konstrukrif

Oleh : Yongky

          Semua nilai realitas adalah bentuk konstruksi sosial atau socially constructed. Nilai mempunyai satandart tersendiri dalam realitas dan nilai itu dikonstruksi berdasarkan episteme tiap rezim kebenaran. Hal yang sama juga terjadi pada saat zaman-zaman colonial. Rezim penjajah menerapkan nilai-nilai yang berlaku di tanah jajahannya. Mereka menerapakan nilai tersebut melalui apparatus negara dan undang-undang. Produksi nilai seperti itulah yang memperkuat tesis nilai konstruktif.
         
          Rezim of truth kolonial mengkonstruksi semua nilai kehidupan, nilai superior dan inferior, nilai baik dan buruk, nilai normal dan tidak normal. Dan masyarakat jajahannya mengamini nilai-nilai tersebut. Sehingga ada pernyataan bahwa orang-orang kulit putih adalah superior dan orang-orang oriental/pribumi adalah inferior. Nilai itu dikonstruksi untuk menindas bangsa-bangsa pribumi. Penjajahan bukan hanya secara fisik tetapi secara mental atau psikis. Kemudian mulai ada pengakuan nilai itu secara masal bahwa kaum penjajah adalah bangsa yang superior dan beradab.

          Muncullah kemudian pahlawan-pahlawan postcolonial yang mencoba untuk mendekonstruksi nilai-nilai yang dikonstruksi oleh rezim kolonial. Mulai dari Edward Said sampai Spivak mulai mendekonstruksi nilai-nilai colonial melaui tulisan-tulisannya. Said yang menulis tentang orientalism berusaha menjelaskan bahwa para penjajah bukan hanya mendeskripsikan kaum pribumi dengan label-label mereka tetapi mereka juga membuat preskripsi tentang kaum pribumi. Preskripsi yang benilai mutlak yang berarti kaum pribumi akan selalu inferior dan tidak akan pernah bisa menyamai atau melampaui kaum superior. Dengan tulisan Edward Said itu maka nilai-nilai itu mulai didekonstruksi oleh orang-orang pribumi bekas jajahan dan menimbulkan rasisme baru. Serangan balik mulai dilancarkan sehingga menimbulkan sentiment-sentimen terhadap orang-orang kulit putih. Dan orang orang pribumi/oriental mulai mengkonstruk nilai-nilai untuk orang-orang kulit putih.

          Dari sini kita bisa melihat sebuah pertarungan nilai konstruktif antara bangsa yang terjajah dengan bangsa yang menjajah. Coba kita melihat kembali apakah nilai-nilai itu semuanya konstruktif atau adakah nilai-nilai esesnsial atau natural di dalam realitas dunia ini. Dalam studi akademik tidak akan pernah mengamini sebuah nilai esensial. Nilai esensial dianggap tidak ada karena semua nilai sifatnya relatif dan tidak ada makna pasti. Maknanya selalu tertunda tergantung konsep universal dan budaya masyarakat.

          Dalam pemikiran semacam ini saya mencoba untuk mendekonstruksi sebuah nilai. Benarkah semua nilai itu dikonstruksi oleh sosial? Atau ada nilai-nilai esensial yang diamini oleh banyak orang tanpa sebuah konstruksi sosial?

          Nilai esensial adalah sebuah nilai yang dimiliki oleh sebuah entitas yang mempunyai aura yang diakui oleh semua yang melihatnya. Pertanyaan sederhana yang coba saya munculkan adalah benarkah nilai cantik itu sebuah konstruksi sosial atau memang ada orang yang cantik secara natural jadi tanpa mengikuti konstruksi sosial nilai cantik kita menyatakan dia cantik. Menurut Frantz Fanon yang menyatakan bahwa orang-orang oriental begitu memuja sebuah superioritas orang kulit putih sehingga mereka mau menyerahkan segala-galanya demi dapat mempunyai pengalaman dengan ‘the whiteness’ yang dimiliki mereka. Mereka mempunyai semacam fantasi vertical. Ketika sudah mengalami ‘the whiteness’ dari orang kulit putih secara sosial mereka terangkat derajatnya. Mereka begitu bahagia ketika ada seorang kulit putih yang mencintainya. Itu menandakan bahwa mereka pantas dicintai orang kulit putih dan fantasi mereka membuat mereka mengamini bahwa mereka dibawah derajat orang kulit putih. Itulah sebuah fantasi nilai yang dikonstruksi oleh orang-orang kulit putih. Fantasi di sini berarti sebuah angan-angan bahwa mereka itu superior dan angan-angan itu dikonstruksi oleh orang-orang kulit putih. Coba kita lihat kembali apakah kecantikan orang kulit putih itu sebuah konstruksi sosial. Atau memang mereka cantik secara alami. Atau jika dilogikakan begini, orang kulit putih sebenarnya secara esesnsial, natural dan alami memang cantik dan konstruksi itu dasarnya adalah kecantikan alami tersebut. Jika memang mereka cantik secara konstruktif maka mereka tidak akan diamini setelah muncul pemikiran poskolonial. Coba kita tanya kepada diri kita masing-masing, setelah kita membaca pemikiran poskolonial apakah kita masih mengakui bahwa mereka cantik karena konstruksi atau memang cantik secara esensial?

          Apakah benar kita tidak bisa keluar dari nilai konstruksi sosial. Jika dilogikakan bahasa adalah sebuah pelabelan dan konstruksi bahasa itu secara sosial jadi bisakah kita keluar dari pemikiran kita keluar bahasa? sehingga kita bisa keluar darnilai konstruksi sosial?

          Kita seharusnya membuka ruang bagi pemikiran kita untuk sebuah nilai esensial. Setiap entitas memiliki aura yang tidak bisa dibahasakan. Dan aura bukanlah sebuah konstruksi sosial. Subjek yang memiliki nilai aura akan diamini oleh semua yang melihatnya. Orang yang memiliki aura kecantikan alami akan diamini bahwa dia cantik bagi setiap orang yang melihatnya. Orang yang superior secara esensial akan diamini oleh setiap orang yang mengenalnya. Tanpa menggunakan bahasa kita bisa mengenali nilai itu. Bahasa mengekang sebuah makna realitas. Dalam film bejudul parfum ada monolog Grenouille yang intinya berkata bahwa, “Aku mencium begitu banya bau harum di dunia ini. Dan bahasa tidak bisa mewakili bau harum yang aku cium, sehingga aku tidak bisa mengatakannya”. Artinya dimanakah nilai esensial itu berada? nilai esensial itu berada di luar bahasa sehingga kita tidak bisa membahasakannya. Dia berada dalam ruang yang tidak tersentuh bahasa dan hidup di dalam alam pikiran kita.

Jumat, 26 Agustus 2011

Sepucuk Surat Nesti

Libya,

Negeri yang kaya akan minyak dan di sanalah tempatku menempuh ilmu dan berjuang selama 4 tahun. Aku banyak membaca tentang orang yang berkuasa di Libya saat ini. Dialah orang yang kuanggap ayah ideologisku, Muammar Khadafi. Aku menganggapnya ayah karena aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di kampung halamanku Indonesia kecuali kekasihku Nesti. Setidaknya aku mengakui Muammar Khadafi sebagai orang yang mempengaruhi pemikiran-pemikiranku terhadap dominasi dan supremasi dari dunia barat. Persatuan bangsa Arab adalah tujuan utama sang pemimpin yang membuatku terkesan.

Aku berkuliah di Al Fateh University di Tripoli selama 2,5 tahun. Faculty of Arts & Media adalah tempatku menuntut ilmu demi meraih gelar master ku. Setelah meraih gelar master dan beberapa prestasi aku masih ingin tinggal di negara ini. Alasan utama kenapa aku masih tinggal di sini adalah aku masih belum menuntaskan obsesiku. Obsesi untuk bertemu dengan sang Brotherly Leader of Libya, Muammar Khadafi.

Tapi apa daya yang bisa kuperbuat, negeri ini sedang dilanda konflik. Pemberontak dan pengkhianat rezim membentuk kubu oposisi demi menurunkan tahta sang pemimpin. Dengan terpaksa aku meninggalkan negeri Libya tanpa pencapaian atas obsesiku. Besok malam aku sudah berencana pulang ke Indonesia, bertemu dengan kekasihku yang telah cukup lama kutinggal. Aku tidak bisa tidur malam ini. Seminggu yang lalu Nesti kirim email yang kemudian ku print dan kusimpan di bawah bantalku. Aku sudah membaca surat itu bahkan berulang-ulang. Yang belum kulakukan adalah membalasnya. Aku memang sengaja tidak membalasnya untuk memberi kejutan kepada Nesti bahwa aku akan segera pulang kepadanya.

Keesokan malam aku sudah berada di Tripoli International Airport. Sekilas kumelihat siaran saluran TV Libya Alhurra, stasiun televisi milik pemberontak, yang menyiarkan bahwa kota Tripoli jatuh di tangan pemberontak dan rezim Muammar Khadafi akan segera runtuh. Meskipun aku belum bertemu sang kolonel apalagi bediskusi dengannya, setidaknya aku tetap berharap bahwa Muammar Khadafi akan membawa perubahan bagi konflik di Libya. Untuk kubu oposisi semoga mereka sadar bahwa bantuan NATO tidak gratis, emas hitam Libya begitu menggiurkan. Aku segera beranjak memasuki pesawat yang telah siap untuk terbang ke Indonesia.

Sesampainya di tempat duduk segala ingatan dan kenanganku tentang kampung halaman Indonesia serempak memasuki otakku. Ayah ibuku telah tiada tapi berkat kecerdasan dan kemampuanku aku sanggup besekolah tinggi. Aku mulai hidup sendiri sejak umur 20 tahun. Sejak saat itu sebenarnya aku sudah tidak ada gairah untuk melanjutkan hidup dan ingin segera menyusul ayah ibuku ke surga. Tapi pengaruh Nesti begitu kuat. Dialah yang menyemangatiku sampai aku kembali bangkit untuk menjalani hidup. Bahkan semangat untuk bersekolah lagi datang darinya. Kami berpacaran selama lima tahun lebih. Sosok Nesti bukan hanya sosok seorang kekasih bagiku tetapi sebagai sosok ayah ibuku yang hilang. Oleh karena itu aku tidak sanggup hidup lagi jika kehilangan dia. Begitupun dia, Nesti selalu setia dan sabar menungguku pulang ke Indonesia. Dia rajin mengirim email dan menghubungiku setiap minggu.

Kenangan dengan Nesti yang paling tidak bisa kulupakan dan selalu melekat di pikiranku adalah ketika aku mencoba untuk mengakhiri hidupku dengan obat-obatan. Aku teringat dia pernah berkata, “Jika kau ingin bunuh diri, pastikan aku orang terakhir yang kau lihat saat meregang nyawa.”. Jadi ketika aku berniat akan bunuh diri aku segera menghubunginya. Dia datang sendiri dengan membawa obat beracun. Aku bertanya kepadanya apa yang akan dia lakukan. Dia langsung menjawab, “Aku juga ingin merasakan apa yang akan kau rasakan, kau ingin bunuh diri senikmat apakah kematian itu.” Aku langsung mengurungkan niatku dan mulai memeluknya. Aku begitu sulit untuk kehilangan Nesti tetapi kenapa aku begitu mudah menginginkan kehilangan nyawaku sendiri.

Sejak saat itu Nesti begitu berharga bagi hidupku khususnya ketika aku mengidap suatu penyakit. Penyakit aneh dan tak kunjung sembuh. Aku terkadang melihat suatu kondisi yang berbeda dengan penglihatan orang lain. Kata dokter juga aku mempunyai khayalan yang luar biasa sehingga mempengaruhi kepribadianku. Dokter itu mengatakan jika aku ingin sembuh aku harus bisa mengenali dan memilah yang mana khayalanku dan yang mana kenyataan sebenarnya. Dokter itu juga mengatakan sesuatu yang membuatku ingin membunuhnya. Kuputuskan aku tidak akan menemui dokter itu lagi. Kemudian aku berpindah ke dokter yang lebih ahli. Hampir saja aku memukulnya karena perkataan yang dilontarkannya sama dengan dokter yang kutemui sebelumnya. Kupastikan aku tidak akan sembuh karena memang aku tidak sakit. Apa yang mereka sebut penyakit aku anggap nyaman dan tenteram jika terus- menerus mengidapnya. Nesti adalah juga dokter bagiku. Dia pernah berkata, “Jika dokter menganggap kau mengidap penyakit seharusnya dokter itu juga tahu bahwa penawarnya adalah aku.”. Begitu berharganya sosok Nesti dalam setiap permasalahan yang kuhadapi.

Aku tertidur dengan tenang dan perasaan tak sabar akan bertemu dengan Nesti. Aku akan segera pulang ke Indonesia. Negara kelahiranku dan kelahiran sang penyelamat hidupku. Sebuah suara telah membangunkan tidurku. Kupikir hanya aku saja yang mendengar suara itu tetapi semua orang di pesawat rupanya juga mendengarnya dan membuat mereka semua terbangun. Sesekali aku membaca surat dari Nesti. Aku tidak pernah bosan membaca stiap kata-katanya

“…. aku tidak akan berhenti berharap dan terus menunggu kedatanganmu untuk kembali pulang. Begitulah janjiku padamu. Dan kuharap kau juga segera pulang untuk memenuhi janjimu. Seperti yang selama ini kita harapkan, sepasang kekasih yang diikat oleh firman Tuhan. Maafkan jika belakangan ini aku sering mengkhawatirkanmu. Aku tidak tahu perasaanku ini selalu mengganggu tidurku. Sampai-sampai mimpi buruk selalu menghampiriku hampir setiap malam. Mimpi itu seakan membuat jarak kita semakin jauh. Tapi itu hanyalah bunga tidur. Aku percaya mimpi indah akan segera menghampiri kita di saat kita bertemu nanti. Semoga kita bisa terus bersama selamanya. Nesti”. Bait terakhir dari surat kekasihku yang ku baca berulang-ulang. Aku tetap duduk terdiam di dalam ruangan pesawat yang remang-remang. Aku melihat jam menunjukkan pukul 2 pagi. Pagi yang sangat melelahkan setelah bertahun-tahun aku berjuang dan menuntut ilmu demi mendapatkan gelar masterku. Sungguh tidak beruntung nasibku menuntut ilmu di negeri konflik tetapi akhirnya semuanya dapat kuselesaikan dengan ijasah di tangan kiri dan prestasi di tangan kanan. Hadiah yang sangat berharga sebelum aku.. sebelum aku.. kembali pulang. Aku beranjak dari tempat duduk, berjalan diantara beberapa orang, berniat untuk menyegarkan pikiran. Kemudian aku melihat seorang wanita yang sedang menangis. Aku hampiri wanita itu, “Sudah mbak jangan menangis, perasaan yang mbak rasakan sama dengan yang saya rasakan bahkan semua orang yang ada di sini juga merasakan hal yang sama. Kita hanya bisa berharap dan berdoa semoga keadaan dapat berubah.”. Wanita itu terus menangis tanpa berkata apapun. Aku mencoba berjalan menuju ruangan paling depan, kokpit pesawat. Kelihatannya pintunya tidak dikunci sehingga aku dapat membukanya. Di dalam ruangan aku melihat ada empat lelaki yang juga menangis. Aku bertanya kepada salah satu dari mereka, “Pak, apa keadaan ini sudah tidak dapat ditangani lagi? Apa semuanya sudah pasti?” .“Iya pak kami semua di sini sudah pasrah dan menyerah.” jawab laki-laki itu.

Kemudian aku keluar dari ruangan itu dan pergi ke ruangan lain. Di sepanjang jalan menuju ruangan aku melihat banyak orang berpelukan. Ada sepasang suami istri yang memeluk anaknya. Ada sekelompok wanita yang berpelukan sambil menangis. Sampai di ruangan yang terakhir pemandangannya tidak jauh berbeda. Kemudian aku kembali ke ruangan tempat dudukku semula. Aku ingin marah tetapi bukan saatnya. Akupun ingin berteriak sekencang-kencangnya tetapi tertahan karena aku hanya bisa meneteskan air mata. Hanya itu cara terakhir yang dapat kulakukan untuk mewakili perasaanku. Aku tahu bahwa aku pernah kehilangan semangat untuk hidup. Aku juga bahkan pernah kehilangan akal untuk mengakhiri hidupku. Cobaan tersulit itu semua pernah kualami tanpa air mata. Tetapi kenapa sekarang air mataku seakan tak bisa kuhalangi untuk terus menetes. Apa aku sudah kembali lemah lagi atau apa karena Nesti tidak ada di sampingku sekarang. Tidak, Nesti tetap ada disisiku setiap saat. Sosoknya tidak akan pernah hilang dalam ingatanku karena aku memang tidak mau menghilangkannya dan tidak mau kehilangannya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku meneteskan air mata sedih dan kali ini air mataku tak bisa kutahan.

Aku kembali memandangi surat dari kekasihku Nesti dan ku baca sekilas. Aku berkata dalam hati, “Maafkan aku Nesti, aku tidak bisa memenuhi janjiku. Aku percaya akan ketulusan cintamu. Keinginan, harapan dan kesetiaan hatimu adalah segalanya yang membuatku bisa teguh dan kuat menghadapi ujian hidup. Aku selalu teringat akan mimpi yang kau tulis dalam suratmu. Mimpi yang sebenarnya juga menghampiriku hampir setiap malam. Mungkin kau masih belum tahu karena aku tidak sempat membalas suratmu yang terakhir dan semuanya sudah terlambat. Aku akan pulang tetapi tidak pulang kepadamu, tidak juga kepada rumah dan kampung halamanku tetapi yang pasti aku akan pulang, pulang kembali”. Setelah itu aku memejamkan mata mencoba untuk lebih menenangkan diri dari pengumuman 10 menit yang lalu. Pengumuman bahwa pesawat ini akan segera jatuh.

Dengan masih menggenggam surat dari Nesti dan sebuah surat dari laboratorium mengenai penyakitku. Mungkin sebaiknya aku mengakui penyakit yang dikatakan dokter itu supaya diriku tetap tenang. Ya aku mengidap penyakit schizophrenia dan apa yang dikatakan dokter itu yang membuatku marah tak terkendali adalah Nesti kekasihku sebenarnya dia tidak ada. Dokter itu mengatakan, “Jika kau ingin sembuh, bunuh khayalan sosok Nesti karena sebenarnya dia tidak ada, dia bukan kenyataan, dia adalah sosok khayalanmu lebih tepatnya kekasih khayalanmu.

Sabtu, 09 Juli 2011

Sosok Sang Penyelamat


Tatkala langit menyuarakan kegelisahan
Bumi, laut dan angin bersimbah ketakutan
Terbesit asa bertabur duka kepalsuan
Meratapi alunan nasib yang semakain menjerumuskan
Selamat atau diselamatkan…

Diujung timur berdiri sosok penunggang kuda
Yang berteriak lantang dan bersuara tajam
Wahai para pasukan pembawa perintah Tuhan
Berikanlah tangan dan hentakkan semangatmu
Sumber kekuatan Tuhan mengilhami perjuangan
Meresap ke dalam pori-pori yang membara
Bergetar aliran darah menyambut sabda
Menjadi pemicu bangkitnya kekuatan suci
Penyandang pesan dari anak-anakmu, saudara-saudaramu, keluargamu,
teman-temanmu atau bahkan musuh-musuhmu
Tanpa melihat siapa yang berbicara tapi rasakan sebuah makna
Serentak tapakkan kakimu, tegakkan kepalamu, busungkan dadamu
Saling rapatkan kekompakan
Bersumpah demi langit dan bumi, atas nama siang dan malam, bersama air
dan api
Menyatukan bulan, bintang dan hujan
Menyerang dengan barisan ombak sampai titika darah penghabisan
Demi sebuah keagungan yang abadi
Kemuliaan untuk seluruh umat manusia
Dan kedamaian untuk seluruh makhluk di bumi
Tanpa pandang bulu tumpas keserakahan, kejahatan dan kemunafikan
Begerak menghantam melaju dan menghempas
Barisan amanah tak takut mati
Setia serapah menghujam ketidakadilan
Marilah kita serempak mengobarkan satu jiwa
Di bawah tiang bendera yang berkibar
Satukan suara, jiwa dan raga
Lantangkan teriakan menyuarakan
Kemenangan atau kehancuran!


Di ujung sebelah barat duduk sesosok penguasa
Bertahta di kursi emas mencari mangsa
Wahai para prajurit perang
Marilah serentak angkat senjata dan rapatkan barisan
Kita lipatgandakan kekuatan
Musnahkan para pemberontak
Cabut nyawa siapapun yang melawan
Kita besar, kita kuat, kita berjaya
Tangan kita mampu menghancurkan kejahatan
Sarang-sarang musuh adalah target bola api kita
Tak ada yang mampu menandingi dahsyatnya serangan kita
Bahkan jika seluruh bangsa bersatu.. itu mustahil
Karena seluruh bangsa akan tunduk patuh pada kita
Pesan yang dibawa adalah kedamaian
Dan itu semua tercipta karena pertaruhan
Harus ada yang dikorbankan
Nyawa akan berarti jika dikorbankan untuk nyawa yang lebih besar
Demi keadilan yang dibangun di masa depan
Tanpa perlawanan, pemberontakan dan perselisihan
Bersama-sama kita ucapkan sumpah setia
Dan hormat abadi kepada bendera yang berkibar
Melantunkan nyanyian pengobar semangat
Menyertai darah-darah yang mendidih
Getaran nadi memuncak dengan cepat
Detakan jantung mengiringi langkah
Sambaran petir menjadi tanda
Gemuruh awan hitam menjadi saksi
akan kekuatan raksasa yang melangkah
Dalam hitungan 3 kita serempak bergerak
1! 2! 3!
Angkat tangan dan tunggalkan suara
Perang atau damai!



Ditengah-tengah perhelatan suci dan adidaya
Orang-orang tak berdaya mencari perlindungan
Mereka berdoa dan terus meratap
Hanya untuk menanti kedatangan
Sesosok penyelamat


Sosok yang mampu mendamaikan perang air dan api
Menyatukan kekuatan hitam dan putih
Mengenggam langit dan bumi dalam satu kepalan
Menjinakkan singa yang kelaparan
Dan menyelamatkan sekumpulan rusa dari ratusan serigala
Sosok yang hidup dalam ruang dan waktu yang tak terbatas
Dia turun bukan mendamaikan
Tapi dia akan datang untuk menyelesaikan
Tak dapat dipungkiri lagi
Semua orang mendambakan sosok yang telah lama ditunggu
Dialah..
Sang Nabi

Selasa, 05 Juli 2011

Pulang


“…. aku tidak akan berhenti berharap dan terus menunggu kedatanganmu untuk kembali pulang. Begitulah janjiku padamu. Dan ku harap kau juga segera pulang untuk memenuhi janjimu. Semoga kita bisa terus bersama selamanya… Nesty”. Bait terakhir dari surat kekasihku yang ku baca berulang-ulang. Aku duduk terdiam di dalam ruangan yang remang-remang. Ku lihat jam menunjukkan pukul 2 pagi. Ku pikir semua orang di ruangan ini masih tidur karena tidak ada suara sama sekali. Ku beranjak dari tempat duduk dan ku melihat seorang wanita yang sedang menangis. Ku hampiri wanita itu, “mbak kenapa menangis? Keadaan sudah tidak dapat dirubah mbak.”. Wanita itu terus menangis tanpa berkata apapun. Aku mencoba berjalan menuju ruangan paling depan. Kelihatannya pintunya tidak dikunci sehingga aku dapat membukanya. Di dalam ruangan ku lihat ada empat lelaki yang juga menangis. Ku tanya salah satu dari mereka, “Pak apa keadaan sudah tidak dapat ditangani lagi? Apa semuanya sudah pasti?” . “Iya dik kami semua di sini sudah pasrah dan menyerah.” Jawab laki-laki itu.

Kemudian aku keluar dari ruangan itu dan pergi ke ruangan lain. Di sepanjang jalan menuju ruangan aku melihat banyak orang berpelukan. Ada sepasang suami istri yang memeluk anaknya. Ada sekelompok wanita yang berpelukan sambil menangis. Sampai di ruangan yang ku tuju pemandangannya tidak jauh berbeda. Kemudian ku kembali ke ruangan tempat dudukku semula. Aku kembali memandangi surat dari kekasihku dan ku baca sekilas. Ku berkata dalam hati, “Maafkan aku Nesty, aku tidak bisa memenuhi janjiku. Aku akan pulang tetapi tidak pulang kepadamu.”. Setelah itu aku memejamkan mata mencoba untuk lebih menenangkan diri dari pengumuman 10 menit yang lalu. Pengumuman bahwa pesawat ini akan segera jatuh.

Jahitan di Kursi Tua


Menjahit kain dalam temaram yang lanjut
Jarummu kau simpan agar tak menusuk hati cucumu
Rajutan harapanmu selalu kau tunjukan melalui benang

Sampai kapan kau terus menjahit..

Kebayamu yang kusut tak kau tunjukkan pada anak-anakmu
Berjalanmu menandakan kau begitu sulit meninggalkan kasih sayangmu
Keriputmu adalah suatu tanda dari masa lalumu
Nafasmu begitu jelas menghampiri setiap langkah anak-cucumu

Sampai kapan kau duduk di kursi tua..

Rajutanmu telah meninggalkanmu
Ku yakin kau tak berharap sekilaspun
Setelah semua kasih yang kau tuangkan tumpah dan berlalu
Hanya dalam satu ungkapan..

Bu.. saya pamit..
Nek.. saya pamit..

Hanya usapan ikhlas yang sanggup kau sampaikan
Dengan menyimpan beribu tetesan air mata
untuk menyelesaikan kain rajutanmu..

Hampir seabad waktu kau telusuri
Hanya untuk menjahit di kursi tua

Tiap senja kau mengetuk pintu
Nak apa kau ada di rumah?
Tanpa jawaban
Kau mengetuk lagi dengan tongkatmu
Nak nenek bukakan pintu?
Tanpa suara
Kau duduk sepanjang malam menunggu anak-cucumu membukakan pintu
Sampai akhirnya pintu itu terbuka
Sekilas..

Lalu tertutup lagi
Kau lega karena kau telah melihat wajah anakmu yang merangkul cucumu



Genangan air hujan menerima tetesan air mata kasihmu
Kau kembali merajut jahitanmu
Sampai saat itu tiba
Bentakan kata dari anakmu
Pecahan piring dari cucumu
Kau punguti runtuhan kasihmu perlahan
Hingga kau berdarah karena jarum jahitanmu

Nek, sudahlah selesaikan jahitanmu..

Tapi kau merasa masih kuat menjahit
Kau rajut kembali jahitan yang tercerai-berai
Dengan sabar kau memulai dari awal
Perlahan dan perlahan..
Kau merajut dengan gemetar
Kursi tuamu pun sudah reyot
Pertanda kau harus segera berhenti
bukan hanya itu..
berhentilah karena jari-jarimu telah becucuran darah
Jarum itu telah melukaimu

Kau berkata..
“Jahitanku belum selesai
Aku akan berhenti setelah rajutanku menjadi sebuah kenangan utuh
Yang akan kubungkus hanya untuk anak-anakku
Hanya untuk cucu-cucuku”

Hingga akhirnya kursi tua itu telah menjatuhkanmu
Matamu masih berair
Dan jarum itu terjatuh ke tanah
Setetes darahmu menetes bersama jatuhnya
Dengan meninggalkan
Rajutanmu..
Jahitanmu..
Yang masih belum selesai..



(Setiap huruf kutulis dengan air mata, nenek maafkan aku, aku sangat merindukanmu walupun sudah terlambat..)

Laman